Aktifitas

LIBURAN KE PADUSAN, PACET-MOJOKERTO. Hari Sabtu dan Minggu 19-20 Juli 2008 keluarga Iman Prihandono, keluarga Herlambang Perdana dan keluarga Ahmad Rizki Sridadi bersama-sama liburan ke pemandian Banyu Panas di Padusan Pacet, Mojokerto. Acara ini sebenarnya agak sedikit terlambat karena anak-anak sudah mulai masuk sekolah dan musim liburan sudah lewat seminggu. Meskipun terlambat, rekreasi ini sudah dirancang hampir satu bulan sebelumnya, pemesanan tempat menginap yang cocok untuk keluarga juga sudah dilakukan jauh hari sebelumnya. Tapi ada bagusnya juga liburan sudah lewat, jalanan agak sepi, penginapan gampang dicari dan yang penting kolam renangnya tidak ramai dengan pengunjung.

Kawasan Padusan ini bukanlah tempat rekreasi yang baru bagi masyarakat Jawa Timur. Kalau masih ingat dengan tragedi longsor hari Rabu tanggal 11 Desember 2002 yang menewaskan sedikitnya 21 orang, nah… kejadian itu letaknya di Ubalan Padusan kira-kira beberapa ratus meter dari tempat kami rekreasi yang lebih dikenal dengan Banyu Panas Padusan. Konon tragedi tahun 2002 itu terjadi setelah hujan deras menggerus lereng gunung Welirang yang sudah Gundul dan membawa batuan dan gelondongan kayu, dan memang betul adanya, dari foto disebelah ini nampak dari kejauhan bagaimana gunung itu sudah jarang pohonnya. Enam tahun sejak kejadian itu, bekas-bekas tragedi sudah tidak tampak dan orang sepertinya sudah melupakannya. Tapi tidak bagi kami, rekreasi ini kami gunakan sebagai media pembelajaran bagi keluarga tentang pentingnya melestarikan lingkungan.

Menginap di cottage milik Perum Perhutani II dengan tiga kamar adalah tempat yang paling pas untuk keluarga. Acara hari pertama adalah berenang di kolam air dingin. Kolam air panas tidak bisa dibuat berenang, cuma bisa berendam saja. Azril, Ikhsan dan Ilham terlihat senang berenang di kolam buat anak-anak yang dalamnya se-dengkul orang dewasa saja. Sayangnya meskipun air melimpah ruah disini, kolam agak sedikit kotor dengan lumut. Capek berenang, jalan-jalan disekitar kolam renang, ketemu dengan bapak tukang kuda yang menawarkan jasa tunggangan sebesar Rp10ribu saja. Tapi diputuskan untuk naik kuda pagi besok saja, supaya udara masih agak fresh (apa hubungannya?). Agak sore, keluarga Ahmad Rizki datang dan bergabung dengan kita di cottage, acara malam hari adalah makan malam dengan menu “Spaghetti ala Chef Iman”. Dilanjutkan dengan makan Jagung Bakar yang banyak dijajakan sepanjang jalan menuju kolam.

Minggu pagi setelah sarapan, kegiatan pertama yang kami lakukan adalah pendidikan mencintai dan melestarikan lingkungan kepada anak-anak dengan melakukan penanaman pohon. Tiap keluarga menanam satu pohon, jadi total ada 3 pohon yang kami tanam. Anak-anak tampak senang dan antusias dalam kegiatan ini. Pohon yang ditanam dari jenis pohon yang banyak dijual di pasar bunga Kayoon Surabaya, dan sering ditanam sebagai pohon penghijauan kota. Setelah menanam pohon, masing-masing anak berpose didepannya, mudah-mudahan daerah ini tidak longsor lagi seperti kejadian 6 tahun silam. Lengkap sudah 3 pohon ditanam, Arini nampak gaya berpose dengan tangan di pipi, Azril dan Izza bangga dengan pohonnya, sedangkan Ilham dan Ikhsan nampak kesilauan kena sinar matahari pagi. Acara selanjutnya adalah jalan-jalan ke kebun jagung dan kembali ke penginapan. Arin, Aqila, Azril dan Izza bersiap-siap untuk berenang. Ikhsan dan Ilham bersiap-siap naik kuda. Ternyata bapak tukang kuda belum ada di tempat waktu kita sudah siap, akhirnya acara diisi dengan hiking sebentar ke hutan pinus dikawasan wisata ini.

Setelah kudanya siap, Ikhsan langsung mendapatkan kesempatan pertama untuk menunggang kuda. Karena sudah sering naik kuda jawa (ndak jelas jenis trah  kuda di Indonesia ini ada berapa yah? yang pasti ada banyak daerah yang punya tradisi berkuda yang kuat, misalnya Sumbawa, Jeneponto sampai Sumatera pun ada kudanya). Setelah puas naik kuda, acara dilanjutkan dengan belanja buah dan sayuran di pasar sederhana sepanjang jalan menuju kolam pemandian air panas. Jamur, Bok Choy, Apel, Tomat, Wortel dan ketela ungu masuk dalam daftar belanjaan. Capek belanja, rasanya kurang pas kalau tidak menikmati makanan dan minuman lokal, tapi apa yang menjadi ciri khas? Yang nampak hanya gorengan dan warung bakso yang sudah sering kita temui. Tapi jangan kecewa dulu, disini ada banyak penjual Tape dari beras ketan hitam ditambah lopis yang terbuat dari ketan. Harganya Rp2500,- per piring kecil, rasa tapenya cukup manis dan empuk tapi karena pe-ragian-nya kurang sempurna jadi terasa kurang keras aroma tape-nya. Kalau mau yang terasa aroma tape tapi masih dalam katagori halal, bapak penjual tape juga menyediakan air tape yang dijual perbotol seharga Rp4000,- saja.

Setelah puas makan tape, kami sekeluarga kembali ke penginapan yang jaraknya tidak terlalu jauh tapi harus menanjak tajam. Istirahat sejenak setelah tenaga terkuras menanjak, kebetulan didepan penginapan ada kolam ikan yang tidak terlalu besar, lumayan untuk menenangkan pikiran dan duduk sejenak beristirahat. Acara selanjutnya adalah berjalan menyusuri sawah dengan tanaman padi yang mulai menguning disekitar penginapan. Terus terang, Ikhsan dan Ilham belum pernah sekalipun tahu seperti apa padi dan gabah itu, mereka tahunya sudah jadi beras dan jadi nasi siap disantap. Jadilah ini pengalaman pertama seumur hidup mereka menyusuri pematang sawah, memegang batang padi, menyentuh bulir gabah yang masih bergantung di punainya. Sayang biasanya kalau padi masih hijau, saat air disawah masih dibiarkan menggenang, biasanya bisa mancing belut disana, atau mencari keong mas yang banyak menempel jadi hama padi. Aktifitas ini sekaligus untuk mendidik anak-anak tentang bagaimana susah payahnya pak Tani kita menanam padi dengan keringat dan waktu yang lama, supaya mereka bisa menghargai setiap bulir nasi yang menjadi karunia Allah.

keluarga besar

Puas menikmati pelajaran dari tanaman padi, kita kembali ke penginapan untuk makan siang dan persiapan untuk kembali pulang ke Surabaya. Keluarga pak Herlambang dan pak Rizki sudah lebih dulu ada di penginapan dan siap menyantap hidangan makan siang. Dari ceritanya, semua anak-anak merasa puas dan senang dengan liburan ini, banyak pelajaran baru tentang alam sekitar yang bisa didapatkan. Tahun depan mau kemana yah? Belum tahu, tapi yang jelas pak Herlambang sepertinya  tidak bisa ikut liburan bersama karena harus menempuh studi S3 ke negeri kincir angin mulai september ini. Liburan ditutup dengan foto bersama semua keluarga, kecuali Izza yang memilih untuk tetap tinggal di mobil.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.